Beberapa tahun berlalu, dan ternyata aku masih belum tau siapa diriku. Aku suka tertawa. Bercanda. Berbincang merangkai tali pertemanan seperti khalayak umumnya. Banyak manusia yang aku temui, beragam sifat yang aku hadapi. Aku bisa. Aku bisa menanganinya dengan santai. Tapi, semua itu tetap saja aku masih belum tau siapa diriku. Hidup terasa sulit. Semangat melepuh. Masalah yang besar datang menghampiri seolah penyesalan tiada arti. Depresi. Memendam emosi. Banyak hal sulit dimengerti. Dan disaat ku menyadarinya, hidup dengan penyesalan dan rasa bersalah jauh lebih menyakitkan dari pada kematian. "Sampai saat ini, aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri"
Pada hati yang terpaksa aku lepas Maaf, jika sampai saat ini pertemuan kita masih ku ingat Dekap tangan, jejak langkah, aroma nafas, bau tubuh masih jelas mengalir dalam ingatan Seberat pelita memendam cahaya Sebegitu beratnya ucapan ini tercipta Terdesak yang amat menyesak Terhimpit dalam sakit Dan kebuntuan yang semakin dekat Sudah lama namun tetap sama Suara-suara lirih menggema perih Bahwasanya setiap bait yang kau rasakan bukan hanya luka semata, melainkan pelebur rindu-rindu yang kau punya Pada rela atas semua yang hilang dan segenap yang datang Dengan takut yang tampak akan menjadi hambatan setiap keyakinan Kini, lekuk bibir adalah hati yang tersakiti Namun, langkah masih berjalan (Bukankah untuk melangkah lebih jauh, kita harus berani melepas yang utuh?) Menerka luka, menyayat tawa, menahan tangis, memangkas rasa adalah hal nyata yang masih terasa Retak berserakan Terinjak-injak oleh lara Namun disinilah aku... aku masih tetap sama *henin...